Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Galatia 6:9.
Home Pengharapan Tidak Mengecewakan Kesesakan Itu Sementara
Kesesakan Itu Sementara PDF Print E-mail
Thursday, 26 February 2009 08:38

Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,... Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu. (So Moses brought Israel from the Red sea, and they went out into the wilderness of Shur; and they went three days in the wilderness, and found no water. And when they came to Marah, they could not drink of the waters of Marah, for they were bitter: therefore the name of it was called Marah. And the people murmured against Moses, saying, What shall we drink? And he cried unto the LORD; and the LORD shewed him a tree, which when he had cast into the waters, the waters were made sweet: there he made for them a statute and an ordinance, and there he proved them,... And they came to Elim, where were twelve wells of water, and threescore and ten palm trees: and they encamped there by the waters. Exodus 15:22-25,27)

Satu. Jika kita baca kisah lengkapnya di Alkitab, kisah itu tepat diawali nyanyian puji-pujian bangsa Israel, dengan memukul rebana dan menari-nari. Mereka baru menyaksikan mujizat terbelahnya laut Teberau, dimana bangsa Israel leluasa berjalan di tanah kering, dan setelah itu air berbalik dan membenamkan Firaun dan pasukannya.

Dua. Mujizat spektakuler itu mengikuti mujizat yang telah muncul sebelumnya, yaitu penyertaan Allah melalui "tiang awan" di waktu siang (tiang awan menghalangi terik matahari karena padang gurun sangat panas di siang hari) dan "tiang api" di waktu malam (tiang api menghangatkan karena padang gurun sangat dingin di malam hari).

Tiga. Akan tetapi, mereka mengalami kesesakan dalam perjalanan selanjutnya, yaitu tiga hari tidak menemukan air. Hal ini sangat menguras cadangan air mereka. Pengharapan mereka adalah menemukan air setibanya di Mara. Tetapi ternyata air di Mara berasa pahit. Bangsa Israel bersungut-sungut, dan Tuhan menunjukkan mujizat dengan mengubah air pahit menjadi manis. Disitu Tuhan memberi ketetapan dan peraturan-Nya. Kemudian mereka sampai di Elim, disana terdapat 12 mata air dan 70 pohon korma.

Empat. Kesesakan yang dialami bangsa Israel itu sementara. Tepi laut Teberau menuju Mara berjarak sekitar 170 km atau 3 hari perjalanan kaki. Mara menuju Elim berjarak sekitar 20 km atau 5 jam perjalanan kaki. Sebenarnya jika bangsa Israel bersabar sebentar saja, mereka telah sampai ke solusi masalah mereka. Sesampai di Elim, yang sangat dekat dengan Mara, air berlimpah.

Lima. Tuhan telah menunjukkan penyertaanNya dengan sangat jelas kepada bangsa Israel. Tuhan mempersiapkan iman bangsa itu sebelum mengijinkan kesesakan. Dan Tuhan juga sudah mempersiapkan solusinya. Pada saat kesesakan itu datang, solusinya sebenarnya sudah tersedia, meskipun bangsa Israel ternyata gagal memahaminya.

Enam. Mungkin kita pernah atau sedang mengalami kesesakan, yang betul-betul membuat cadangan kita terkuras, tabungan kita terkuras, uang kita terkuras, dll. Kita merasa hidup kita berada di ujung tanduk. Tetapi Tuhan yang jelas menyertai kita selama ini, mustahil Dia meninggalkan kita.

Tujuh. Tuhan mungkin ingin untuk sekali lagi mengingatkan ketetapan dan peraturan Nya kepada kita. Karena terkadang di kondisi kesesakan, kita lebih bisa mendengar Tuhan. Kita lebih bisa mengevaluasi diri, kita lebih bisa mengendalikan diri dan tidak liar.

Delapan. Saat ini, mungkin solusi dari masalah kita belum terlihat. Kita bahkan mulai tidak yakin bahwa solusi itu ada. Tetapi yakinlah bahwa solusi itu telah tersedia, bahkan saat kesesakan kita diijinkan muncul. Kita belum melihat, tetapi Tuhan sudah melihat dan mengarahkan kita kesana. Solusi itu sudah sangat dekat, lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

 
Anda perlu login untuk berpartisipasi dalam forum.