Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Yesaya 54:8.

Home Karakter Mandiri Nasib Baik dan Buruk
Nasib Baik dan Buruk PDF Print E-mail
Saturday, 31 January 2009 07:40

Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. (And when the people complained, it displeased the LORD: and the LORD heard it; and his anger was kindled; and the fire of the LORD burnt among them, and consumed them that were in the uttermost parts of the camp. Numbers 11:1)

Bilangan 11:1,18. Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan..... Tetapi kepada bangsa itu haruslah kaukatakan: Kuduskanlah dirimu untuk besok, maka kamu akan makan daging; sebab kamu telah menangis di hadapan TUHAN dengan berkata: Siapakah yang akan memberi kami makan daging? Begitu baik keadaan kita di Mesir, bukan? --TUHAN akan memberi kamu daging untuk dimakan.

Secara ringkas, latar belakang kisahnya adalah: Allah melepas bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dimana mereka ditindas, dipaksa bekerja berat, setiap bayi laki-laki dibunuh, dan banyak lagi kekejaman lain. Sehingga bangsa Israel berteriak minta tolong kepada Allah, dan Allah menolong mereka lepas dari Mesir. Akan tetapi, mereka kemudian sering menyatakan bahwa nasib mereka di Mesir lebih baik daripada setelah keluar dari Mesir. Salah satunya adalah saat mereka ingin makan daging, mereka kembali bersungut-sungut.  Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah ini.

Satu. Nasib baik dan buruk hanya ada dalam pikiran. Ada orang yang secara kasat mata nasibnya buruk, tetapi bahagia dan bersyukur. Banyak orang yang secara kasat mata nasibnya lebih baik, tetapi menyesalinya. Kita sendiri yang memberikan "Label Baik" atau "Label Buruk" atas nasib kita.

Dua. Apabila kita memutuskan memberi "Label Baik" bersiaplah untuk bahagia, apabila kita memutuskan memberi "Label Buruk" bersiaplah untuk tidak bahagia.

Tiga. Ada orang yang memiliki "pribadi konflik" sehingga mereka selalu bermasalah dengan nasib saat ini. Mereka merasa pekerjaan mereka yang sekarang buruk sehingga terus menerus mengeluh dan mencerca. Akan tetapi, apabila mereka pindah kerja, mereka juga kembali mengeluh dan mencerca pekerjaan barunya, dan mulai merindukan pekerjaan mereka terdahulu.

Empat. Orang dengan "Pribadi konflik" akan semakin lama semakin sulit bukan karena "tidak diberi berkat", tetapi karena "menampik berkat". Mereka sibuk mencari keburukan nasib mereka saat ini dibanding nasib mereka terdahulu atau dibanding nasib orang lain. Sehingga mereka selalu memiliki alasan untuk mengeluh. Keluarga mereka, pekerjaan mereka, semua adalah bagian dari nasib buruk mereka. Mereka merendahkan berkat yang diterima, dan menginginkan berkat orang lain.

Lima. Kita mengerti bahwa kita harus selalu bersyukur. "Bersyukur" yang sejati adalah menikmati nasib kita saat ini, menikmati apa yang kita miliki saat ini. Dengan demikian, ucapan syukur kita akan berawal dari hati yang bersyukur, bukan hanya di bibir saja.

 
Anda perlu login untuk berpartisipasi dalam forum.